Pre-Market Sounding Proyek Monorel dan Trem

 

Surabaya, 12 Agustus  2013

BKPPM-Surabaya: Rencana pengembangan angkutan massal cepat berupa monorel dan trem mulai berjalan. Sebagai tahap awal, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar pre-market sounding sekaligus melaunching website khusus bappeko.surabaya.go.id/smart di balai kota, Rabu silam.

Pre-market sounding merupakan langkah pertama dari lima tahapan proses lelang, yang meliputi market sounding, pra-kualifikasi, kualifikasi, penawaran yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan kerjasama.

“Sedangkan skema yang digunakan dalam proyek investasi ini adalah kerjasama pemerintah dengan badan usaha penyedia infrastruktur/PPP (Public Private Partnership),” terang Ketua Panitia Lelang, Dedik Irianto.

Dedik menambahkan, tujuan diadakannya pre-market sounding yakni untuk memperkenalkan proyek monorel dan trem kepada calon perusahaan maupun investor potensial serta mengetahui minat mereka terhadap proyek bidang transportasi umum tersebut. Sekaligus, pemkot juga ingin memanfaatkan acara tersebut guna mendapatkan masukan, saran dan kritik yang pada akhirnya dijadikan bahan penyempurnaan.

Dikatakan Dedik yang juga menjabat Kepala Bina Program ini, tahapan pre-market sounding memakan waktu sekitar 1,5 bulan. Itu lantaran proyek tersebut memiliki kompleksitas yang sangat tinggi dan pemkot ingin benar-benar memastikan tidak ada masalah yang muncul di kemudian hari. Sedangkan dalam tahap penyiapan dan transaksi proyek, Pemkot Surabaya akan didampingi lembaga internasional antara lain The World Bank dan CDIA (City Development Initiative for Asia).

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota (Sekkota) Surabaya Hendro Gunawan memaparkan detail moda transportasi yang bakal diberi nama Surotrem dan Boyorail itu. Rencananya, koridor utara-selatan akan menggunakan jenis trem. Panjang jalur yang disiapkan 16,70 kilometer. Pemilihan trem bukannya tanpa alasan. Menurut Hendro, pada jalur tersebut terdapat banyak bangunan cagar budaya sehingga trem dirasa paling pas karena tidak mengganggu estetika bangunan. Disamping itu, faktor viaduk juga menjadi pertimbangan dipilihnya trem untuk koridor utara-selatan.

Lain halnya dengan kawasan timur-barat yang dihubungkan dengan monorel. Jalur monorel sepanjang 23 kilometer membentang dari Kejawan Putih Tambak sampai Lidah Kulon. Pemilihan monorel karena dapat mengurangi titik konflik dengan persimpangan sebidang.

“Monorel juga lebih mudah dalam hal pembebasan lahan karena sifatnya yang elevated (melayang),” kata Hendro dihadapan konsulat jenderal negara sahabat dan para awak media.

Dia menambahkan, pengadaan angkutan massal cepat memang sudah mendesak. Pasalnya, pertumbuhan kendaraan pribadi sudah sangat signifikan sehingga berimplikasi pada kemacetan lalu lintas. Pertumbuhan sepeda motor yang mencapai lebih dari 20 persen per tahun serta mobil pribadi yang melebihi 15 persen per tahun tidak mampu diimbangi oleh pertumbuhan jaringan ataupun kapasitas jalan.

Pernyataan senada juga diungkapkan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Menurut dia, angkutan massal cepat sudah menjadi kebutuhan utama Surabaya baik sekarang maupun untuk masa mendatang.

Sebagai catatan, Surabaya merupakan kota dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,6 persen pada 2012. Nah, kata wali kota, pertumbuhan ekonomi tersebut harus diimbangi dengan penyediaan fasilitas, salah satunya transportasi.

Untuk itu, Risma -sapaan akrab wali kota Surabaya- menyatakan pihaknya segera menyiapkan sarana-sarana penunjang monorel dan trem. Seperti fasilitas park and ride, terminal, halte, dan depo. Serta peremajaan dan penataan angkutan kota agar seluruh sistem transportasi di Surabaya bisa terintegrasi.

“Kota ini tidak akan sehat dan menarik kalau macet. Itu bisa menyebabkan masyarakat lelah dan juga tidak efisien dari segi ekonomi serta waktu,” katanya. Jika seluruh proses lelang lancar, wali kota mengestimasi pengerjaan fisik sudah bisa dilaksanakan akhir 2014.