Perekonomian

Dengan jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mencapai Rp. 181,65 Triliun di tahun 2009, Surabaya merupakan pendukung utama dalam pembentukan PDRB Jawa Timur dengan kontribusi sebesar 26,55%. Sektor yang menjadi penyumbang PDRB terbesar berasal dari sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan kontribusi sebesar 39,14%. Penyumbang terbesar kedua terhadap PDRB Kota Surabaya berasal dari sektor industri pengolahan yang mencapai 28,70%.

Sebagai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian, Surabaya memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat. Pada tahun 2009 laju pertumbuhan ekonomi Surabaya mencapai 5,04%, lebih besar dari laju pertumbuhan Jawa Timur yang hanya 5,01%. Dalam kurun waktu tahun 2005-2009, tingkat inflasi di Surabaya cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2005 tingkat inflasi Surabaya mencapai 14,21%. Tahun 2006 turun menjadi 6,71 dan 6,27% tahun 2007. Tahun 2008, inflasi kota Surabaya kembali naik menjadi 8,73% dan tahun 2009 turun sangat rendah menjadi 3,39%. Naiknya inflasi tahun 2008 disinyalir karena meningkatnya harga minyak dunia sehingga menyebabkan tekanan inflasi meningkat. Sedangkan turunnya inflasi pada tahun 2009 karena pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan cenderung membaik pada tahun 2009.

Bila kita melihat dari nilai PDRB, laju pertumbuhan ekonomi serta tingkat inflasi kota Surabaya yang cukup stabil sampai dengan tahun 2009, dapat kita simpulkan bahwa Surabaya memiliki perekonomian yang cukup sehat. Tidak salah bila Surabaya menjadi kota tujuan investasi bagi para investor baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.